Warung Bebas

Saturday, September 22, 2012

Cerita Sex Perawan Kampus | Cerita Sex | Cerita Dewasa

Cerita Sex Perawan Kampus - Kumpulan Cerita Sex Terpanas - Pertama kali aku pacaran yaitu pada waktu semester pertama di kuliahku di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Y. Memang aku agak telat untuk pacaran, semasa SMA dulu dimana sekolahku adalah sekolah homogen yang muridnya cowok semua temen-temenku kebanyakan sudah pada punya pacar sementara aku masih betah sendirian. Bukannya aku tidak laku atau bagaimana, tetapi memang aku-nya yang belum mau untuk membina suatu hubungan di samping nasihat dari orangtua yang menganjurkan aku untuk sekolah dulu sampai selesai baru pacaran.

 

Cerita Sex Perawan Kampus - Namun ketika aku masuk ke bangku perkuliahan nasihat dari orangtuaku jadi tidak mempan ketika aku naksir seorang cewek sekelas yang cantik, seksi, pintar dan merupakan “bunga” kampus di angkatanku, Adriana namanya dan biasa dipanggil Ana. Dia cewek yang mempunyai darah keturunan dari Jawa Timur - Kalimantan - Belanda, jadi masih bau-bau indo gitu. Langsung aku putar otak untuk mencari cara mendekatinya, maklum baru kali itu aku mencoba untuk melamar cewek untuk jadi pacar.Singkat kata akhirnya aku dapatkan Ana menjadi pacarku. Awal-awal kami pacaran berjalan biasa-biasa saja dalam arti normal saja, seperti layaknya remaja lain yang berpacaran. Namun ketika suatu waktu aku ajak Ana keluar untuk merayakan Valentines Day dia menagih janji yang aku ucapkan waktu di jalan. Memang waktu itu aku beri dia kejutan seikat mawar merah tanda cintaku padanya, kelihatan dia surprise sekali dan bertanya “Wah, kamu ini senengnya kok bikin kejutan sih sayang. Masih ada kejutan lagi tidak nanti?” Aku jawab saja sekenaku, “Oh, pasti ada doong..” sambil otakku berputar karena memang aku tidak ada kejutan lagi untuknya. Ketika di mobil masih di parkiran sebuah rumah makan yang tempatnya memang agak gelap setelah kami selesai makan dan akan pulang, Ana kembali menagih janjiku itu “Mana doong, katanya ada kejutan lagi buat aku?” rajuknya manja. Aku terhenyak bingung, belum sempat aku berpikir tanpa kusadari aku menyorongkan wajahku ke wajah cantiknya untuk mencium pipinya. Tapi ternyata cewekku itu malah menyambutnya dengan bibir sensualnya hingga bibir kami saling beradu. Aku sempat kaget juga, maklum baru kali itu aku mencium bibir cewek.

Tapi karena ketika SMA aku sering baca buku porno dan liat film BF maka aku pun segera mencoba untuk mengimbangi cewekku dengan memainkan bibirku di bibirnya. Tidak lama kami berciuman, mungkin dia merasakan aku yang begitu canggung dalam berciuman, alamak.. malu sekali aku. Memang bagi Ana, aku ini adalah pacarnya yang ketiga setelah putus dengan pacar-pacarnya yang terdahulu jadi dia sudah berpengalaman dalam urusan cium-mencium dan seks dibandingkan dengan aku yang hanya tahu teorinya saja. Tapi inilah awal dari semua cerita indah kami saat berpacaran.

Sejak saat itu kemudian aku jadi ketagihan untuk mencium bibir sensual gadisku itu, bahkan malah dia yang membimbing tanganku untuk membelai-belai bagian tubuhnya. Pada suatu ketika saat kami berciuman di suatu lembah yang sepi di pinggir sawah aku kembali dibuat malu oleh Ana karena waktu itu memang aku hanya mencium bibirnya saja sedangkan tanganku anteng hanya memeluk pinggul atau punggungnya. Dibimbingnya tanganku menuju buah dadanya yang berukuran 36B itu, dan kembali aku terhenyak karena kekenyalan bukit indah kembar tersebut. Tanganku menelungkupi buah dada itu walau masih tertutup baju, tapi ada rasa nikmat dan senjataku jadi tegang. Lalu aku lepaskan ciumanku sambil menatapnya tapi tanganku masih memegangi buah dadanya “Ada apa sayang?” tanya Ana. Aku tersipu malu, kemudian Ana bertanya, “Mau pegang ini hh..?” sambil matanya melirik ke buah dadanya yang indah itu. “Boleh..?” tanyaku, tanpa menjawab Ana langsung menarik tanganku masuk ke kaos ketatnya sampai ke BH-nya dan kemudian dipelorotkan satu tali BH-nya sehingga buah dadanya menyembul keluar. Tanganku pun kembali menelungkupi buah dadanya yang montok dan kenyal itu hanya bedanya sekarang tidak ada penghalang sehingga putingnya yang bulat dan keras itu terasa di telapak tanganku. Ana mendesah dan kembali kami berciuman, senjataku pun menjadi semakin tegang dan mengembang dalam celana jeansku.

Karena nafsuku sudah sampai ubun-ubun kugesekkan kemaluanku ke perutnya, Ana semakin mendesah merasakan besarnya senjataku. Semua itu kami lakukan sambil berdiri bersandar pada sebuah pohon. Karena tempat itu agak terbuka akhirnya kami akhiri cumbuan kami karena takut ketahuan warga sekitar. Namun setelah itu aku jadi semakin berani dan pintar dalam bercumbu, sering kami melakukan di rumahku di saat mengerjakan tugas kampus berdua, didukung suasana rumah yang sepi karena kedua orangtuaku bekerja dan adikku waktu itu masih sekolah hanya ada pembantu yang menyambi buka warung kelontong di garasi rumahku. Kadang juga kami bercumbu saat di bioskop, di mobil, sampai di toilet kampus bahkan saat kami berdua berboncengan naik motor Ana sering meremas-remas dan memainkan batang kemaluanku dari belakang. Di atas sofa saat di rumahku kami bercumbu dengan hot-nya, aku buka kaos ketat Ana yang memakai resleting di depan sebagai kancing (sengaja aku belikan kaos itu untuknya supaya mudah dibuka saat ingin bercumbu). Aku buka BH-nya sehingga tampaklah buah dadanya yang menyembul indah di hadapanku. Kemudian aku remas-remas dengan gerakan memutar dari luar menuju ke dalam.

Sementara itu aku melumat bibir sensualnya, kemudian turun ke lehernya. Aku jilati lehernya sampai ke telinganya, Ana mendesah pelan pertanda dia mulai terangsang. Jilatanku turun terus sampai kemudian ke buah dadanya. Aku jilati dan caplok buah dada itu, kusedot-sedot, lalu kujilati putingnya. Ana meremas rambutku sambil menekan kepalaku ke dadanya. Terus kulakukan itu terhadap buah dada yang satu lagi. Jilatanku turun ke perut, kujilati perutnya Ana menggelinjang kegelian. Tapi jilatanku tidak bisa turun lagi karena terhalang celana panjang katunnya. Nafsuku semakin memuncak, kemaluanku tegang sekali ingin mencari lubang kenikmatannya untuk kumasuki.

Kurebahkan dia di sofa itu kemudian kugulung ke atas sampai ke paha celana katunnya. Terlihat betis indahnya menantang serta paha mulusnya yang putih itu seakan memanggilku untuk mengelusnya. Langsung saja kucium, jilati, dan elus mulai betis indahnya sampai ke pahanya. Memang aku selalu tertarik dengan cewek yang cantik seksi dan mempunyai sepasang kaki yang indah dan panjang seperti Ana cewekku itu. Batang kemaluanku sudah tambah tegang di dalam celana pendekku yang kukenakan dan aku tidak tahan lagi, kemudian aku tindih tubuh Ana sambil mengepaskan kemaluanku yang tegang itu di liang kemaluannya yang masih tertutup celana katun itu. Ana memelukku dan kemudian kugesek-gesekkan batang kemaluanku di situ sambil tanganku tak henti mengelus betis mulus dan meremas pahanya.

“Ssh.. ah.. ah.. ah.. ehm.. sayang, I want it real baby.. ehm.. ehmm.. ssh..” desah Ana di kupingku. Aku tidak peduli dengan kata-katanya, gesekanku kupercepat payudara Ana bergerak-gerak karena desakanku di tubuhnya. Ana semakin tidak karuan gerakannya, sambil menggigit bibir bawahnya dia terus mendesah dan aku semakin terangsang oleh desahannya itu. Tak lama kemudian Ana memperketat pelukannya sambil membenamkan wajahnya ke dadaku yang berbulu dan berteriak tertahan (takut ketahuan pembantuku soalnya), “Aaahh.. sayaangg.. oohh.. aku keluar baby.. eehh.. hhmm..” Kuhentikan gesekanku di kemaluannya, dan Ana melepaskan pelukannya sambil mengecup bibirku dan berkata “Kamu huebat sayang..” dengan matanya yang indah mengerjap-ngerjap seakan masih menikmati orgasmenya itu. Sekarang tinggal aku yang belum tuntas, Ana seakan mengerti keinginanku kemudian bangkit dan membuka celanaku kemudian meraih batang kemaluanku yang berdiri tegak itu, dielusnya perlahan kemudian dikocoknya lalu dikulumnya batang kemaluanku. Geli sekali rasanya, tapi enak sekali! Lain sekali rasanya apabila aku onani sendiri menggunakan guling yang selama ini sering aku lakukan.

Disedot-sedot oleh mulutnya kemaluanku, tapi kemudian aku tarik kepalanya dan kusuruh Ana untuk tengkurap di sofa. Setelah tengkurap kupandangi pantatnya yang padat bulat itu lalu kuremas-remas. Aku lalu mengangkanginya dan menggesekkan batang kemaluanku mula-mula di betis indahnya lalu di paha putih mulusnya kemudian berakhir di pantat bulatnya yang masih tertutup celana katun itu. Kugesekkan, ooh.. nikmat sekali pantatnya sambil tanganku meremas-remas payudaranya dan kuciumi pipi dan lehernya. Gesekanku di pantatnya semakin kupercepat, sampai Ana terdorong ke depan karena gerakanku. Akhirnya penantianku hampir sampai, “Oh.. Ana..pantatmu enak sekali.. uuh.. aku mau keluar sayang.. aah..” dan, “Creet.. croot.. croot..” air maniku memancar keluar di dalam celana dalamku. Aku terkulai lemas menindih Ana yang masih tengkurap sementara batang kemaluanku masih di pantatnya yang bulat itu.

Setelah itu kami merapikan baju dan kembali mengerjakan tugas kuliah kami. Nah, maka ketika kami dapat tugas dalam kuliah, kami senang soalnya dapat kesempatan untuk bercumbu ria, untuk memperlancar itu aku dan Ana selalu berdua membentuk kelompok sendiri (maklum, kami berdua memang sama-sama punya nafsu yang besar).

Namun itu belum seberapa, puncaknya saat mahasiswa angkatanku akan mengadakan study tour ke Jakarta, tentu saja aku serta Ana jadi panitia inti dan karena aku menjabat sebagai sekretaris Himpunan Mahasiswa Jurusan. Maka otomatis rumahku jadi base camp anak-anak panitia untuk membuat surat-surat kunjungan ke instansi-instansi di Jakarta dan perijinan serta membuat buletin study tour. Nah, sebelum teman-teman datang Ana pagi-pagi sekali sudah datang di rumahku, tidak lain tujuannya untuk bercumbu mesra itu tadi. Namun bukan itu yang akan kuceritakan, karena ada pengalaman lain yang tak terlupakan buatku untuk kuceritakan di sini.

Singkat cerita study tour kami berjalan sempurna, aku dan Ana sudah punya rencana untuk memisahkan diri dari rombongan setelah kunjungan terakhir di sebuah kantor organisasi dunia di Jakarta. Kami berdua sepakat untuk tidak mengikuti rombongan yang sebelum pulang ke Y akan mampir rekreasi di Dunia Fantasi, karena nantinya ternyata kami berdua membuat dunia fantasi kami sendiri. Untuk mengelabui dosen dan teman-teman lainnya, kami pamit memisahkan diri dari rombongan dengan tujuan masing-masing. Ana akan ke rumah kakak perempuannya di Bekasi sedangkan aku akan ke rumah Pakde di Jakarta Selatan. Namun setelah aku telepon ke Pak De ternyata beliau sekeluarga sedang ada di Puncak selama 3 hari dan di rumah hanya ada pembantu saja. Mendengar itu Ana langsung mengajakku ke rumah kakaknya saja, aku menurut saja karena aku tidak begitu tahu kota Jakarta.

Setelah sampai di rumah kakak perempuannya, aku dikenalkan dengan suaminya. Tak berapa lama aku semakin akrab dengan keluarga muda tersebut. Mereka belum mempunyai momongan dan tinggal di perumahan dengan satu pembantu. Karena kakak ipar Ana adalah pekerja yang sibuk, beliau seorang manager di suatu perusahaan konstruksi alat berat, maka sampai di rumah sudah capai dan langsung tertidur di kamar. Sedangkan kakak Ana seorang ibu rumah tangga biasa. Aku diberi kamar tidur yang terpisah dari kamar Ana, namun pada suatu malam Ana menyelinap ke kamar yang kutempati. Mula-mula kami hanya ngobrol-ngobrol saja membicarakan rencana kepulangan kami berdua, tapi lama-kelamaan kami semakin merapat dan langsung berciuman. Memang selama study tour kami “puasa” tidak bercumbu, maka kesempatan itu tidak kami sia-siakan apalagi kakak Ana dan suaminya sudah tertidur di kamar atas dan pembantu sudah molor sejak jam sembilan malam. “Sayang! tolong buka bajuku doong.. biar enak,” kata Ana. Lalu kami bergulingan di kasur saling menindih menuntaskan hasrat yang tertahan.

Di sela-sela bercumbu terdengar suara benda jatuh di teras depan. Aku melepaskan ciumanku dan keluar memeriksa, ternyata hanya seekor kucing yang menyenggol pot tanaman. “Sial..!” gerutuku, “gangguin orang lagi seneng aja tuh kucing.” Tapi untungnya seisi rumah tidak ada yang terbangun gara-gara kucing buluk itu. Lalu kembali aku masuk ke kamar melanjutkan permainanku dengan Ana. Mulai kulumat bibirnya, kumainkan lidahku di mulutnya, kucium lehernya dan kujilati telinganya. “Aaah.. sayang, kamu.. hh.. kangen tidak sam.. sama aku?” tanya Ana sambil terengah-engah menahan rangsanganku. Aku tidak menjawab karena mulutku sibuk menciumi lehernya. Tanganku melepas BH-nya, tapi Ana merajuk dan memakai kembali BH itu. “Enngg.. sayang jangan pakai tangan doong.. ngelepasnya pake mulut kamu dong yaang.. please..” edan tenan, baru kali ini Ana minta yang aneh-aneh sama aku. Tapi aku turuti kemauannya. Kugigit tali BH-nya lalu kupelorotkan sampai ke lengan, sementara itu untuk membuka cup BH-nya kugigit pinggirannya dan kupelorotkan ke bawah hingga hidungku menyenggol putingnya yang sudah tegak mengeras itu. “Aaauuw.. geli sayang, teruss.. sayang yang satunya lagi..” pinta Ana manja.

Kembali aku melakukan hal yang sama terhadap payudara yang satunya hingga menyembul, keluarlah dua bukit kembar yang montok, besar dan indah itu di depan mataku. Dengan buas langsung kucaplok payudara kirinya, kusedot-sedot dan kujilati putingnya sementara tangan kiriku meremas-remas payudara kanannya. Kemudian bergantian kucaplok payudara kanan sementara payudara kiri kuremas-remas sambil kumainkan putingnya (karena payudara kiri Ana yang paling sensitif terkena rangsangan). Payudaranya sekarang basah oleh air liurku sehingga tampak mengkilat diterpa cahaya lampu kamar 5 Watt. Jilatanku turun ke arah perutnya, tanganku sibuk mengelus-elus betis indah dan paha putih mulus Ana. Lalu kupelorotkan celana pendek yang dikenakan Ana sehingga sekarang dia hanya memakai celana dalam saja. Aku turun ke bawah untuk menciumi betis Ana lalu naik ke atas menciumi pahanya sampai ke paha bagian dalam hingga ciumanku sampai di selangkangannya tepat di liang kemaluan dan klitorisnya yang masih tertutup celana dalam. Nampak sudah basah celana dalam Ana waktu itu. “Auuw sayang enak.. ehmm.. teeruzz sayang.. lepas aja celanaku.. ooh..” ceracau Ana.

Mendengar itu tanpa disuruh untuk yang kedua kalinya langsung kutarik celana dalam Ana sampai lepas. Aku tertegun melihat kemaluan Ana yang sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu lembut itu, sumpah baru kali ini aku melihat yang aslinya. Ternyata lebih indah daripada yang ada di gambar porno di internet karena bisa langsung disentuh dan dijilati. Aku masih terpana dan bingung melihatnya, lalu aku teringat sebuah adegan di film BF yang pernah kutonton. Maka aku pun segera meniru adegan itu, pertama-tama kusentuh bibir kemaluan Ana, “Eeeh.. hhmm..” desah Ana. Lalu kujulurkan lidahku dan mulai menjilati bibir kemaluannya, terasa asin dan berbau khas kewanitaan Ana namun semakin membuatku bernafsu. Kemudian lidahku menjilati klitorisnya yang mulai membengkak itu, “Aaauw.. sayang, kamu apain anuku?” tanya Ana. Namun belum sempat kujawab, Ana berkata, “Lagii doongg..” memintaku untuk menjilati klitorisnya lagi. “Oouw.. enak sekali.. ehmm.. aduh.. sayy.. aanngg.. ehh..” ceracau Ana sementara kujilati klitorisnya. Cairan kenikmatan semakin deras keluar dari liang kemaluan Ana dan tanpa ragu kujilati, terasa asin dan baunya yang khas sungguh merangsangku.

Lalu kemudian aku bangkit dan mengangkangi tubuh Ana lalu kuletakkan batang kemaluanku di lembah antara kedua bukit kembarnya (setelah kulepas baju dan celanaku tentunya). Kutekan dengan tangan kedua payudaranya untuk menjepit batang kemaluanku itu, sambil merem melek kugesekkan batang kemaluanku sampai menyentuh dagu Ana. Kemudian aku minta Ana untuk mengulum batang kemaluanku, belum sempat dia siap aku sudah menyorongkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya hingga masuk setengahnya. Ana hanya diam, tapi aku segera menarik dan menyorongkan kemaluanku bolak-balik. Mungkin karena Ana tidak siap dia hanya pasif saja sehingga kutarik batang kemaluanku. Setelah bosan dengan gaya itu kemudian aku merangkak turun sambil tanganku mengelus-elus kemaluan Ana yang semakin basah.

Karena aku sudah tidak tahan menahan nafsu untuk menyetubuhi Ana apalagi melihat pandangan Ana yang sayu yang juga sudah sama-sama nafsu, kuarahkan batang kemaluanku yang mengacung tegak itu ke arah liang kemaluannya. Namun apa yang terjadi, ketika nyaris ujung kemaluanku mengenai bibir kemaluannya, Ana menahan perutku dengan tangannya, “Sayang kamu mau ngapain? Mau dimasukin yah.. jangan doong.. aku kan masih perawan!” Busyet! edan tenaann, aku seakan-akan disambar geledek mendengar pengakuan Ana dengan setengah tidak percaya. Bagaimana mungkin Ana yang menjadi pembimbingku dan begitu pintar dalam hal seks yang notabene sudah berpacaran sebanyak tiga kali itu masih perawan? “Please.. sayang.. tolong dong ngertiin aku.. kita nikmatin itu nanti kalo kita sudah nikah aja ya sayaangg..” lanjut Ana. Mendengar itu aku luluh juga, karena aku sendiri berprinsip tidak akan merusak gadis cantikku ini sebelum menikah. Tapi bagaimana dong, kemaluanku yang masih tegang itu masa cuma dianggurin saja. Lalu kubelai rambut Ana yang masih kukangkangi itu sambil berkata, “Oke sayangku, aku tidak akan maksa kamu.. tapi kita lanjutin dong acara kita. Masa sudah di puncak kok tertahan, kita main seperti biasa aja, gesek-gesekan okey?” sambil kukecup kening dan bibirnya. Setelah itu tangan Ana yang menahan perutku dilepasnya sehingga dengan cepat kuarahkan batang kemaluanku untuk kugesekkan di bibir kemaluannya.
“Cepak.. cepok.. cepak.. cepok..” bunyi gesekan kemaluanku dengan bibir kemaluan Ana yang sudah sangat basah itu. Untungnya kasur itu hanya digelar di atas tikar di lantai sehingga tidak ada bunyi derit ranjang gara-gara gerakan kami yang liar. Ana hanya merem melek sambil sesekali mengerang nikmat menerima perlakuanku. Semakin lama kelihatan Ana semakin menikmati permainan kami itu dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya, sehingga membuat aku nekad mengarahkan kepala kemaluanku ke lubang kemaluannya. Kutekan sedikit sehingga agak masuk ke dalam, yah.. kira-kira hanya kepala kemaluanku saja, terasa hangat. Kutarik dan kutekan berkali-kali secara hati-hati agar tidak merusak keperawanan Ana. Kuhentikan gerakanku kemudian kucium bibir Ana. Terasa kemaluanku dijepit ketat, rasanya ngilu tapi enak sekali. “Sayang, kamu masukin ya?” tanya Ana sambil dadanya naik turun karena napasnya tersengal-sengal menahan nafsu. “Enggak kok, cuma digesekin di luar aja,” aku berkelit (padahal sih iya walau cuma sedikit).

Setelah itu kuganti gaya, seperti biasanya Ana kusuruh tengkurap langsung kemaluanku kugesekkan di pantatnya yang empuk-empuk padat itu. Ehhm.. nikmat sekali rasanya. Hampir saja aku mau keluar di pantat Ana tapi dengan segala daya upaya kutahan. Kubalikkan tubuh Ana dengan lembut kukecup bibirnya, payudaranya, perutnya lalu kugesekkan kemaluanku di betis indah Ana. Woouuwww.. semakin tegang dan nikmaat. Apalagi aku paling nafsu dengan betis mulus dan indah milik wanita. Gesekanku bergantian di kedua betis indahnya, begitu juga dengan paha mulus putihnya, hingga terasa sudah di ujung air maniku ingin keluar dari “tempatnya”. Kembali batang kemaluanku kugesekkan di bibir kemaluan Ana, belum lima kali gesekan aku pun keluar dengan suksesnya, “Aaah.. Ana sayang.. uuh.. aku keluar ahh.. enaakk..”
“Croot.. creet.. craat.. criit..”
Air maniku pun muncrat di perut Ana dan sebagian di pangkal pahanya. Ana terperanjat kaget, lalu segera bangkit dan meraih celana dalamku yang kebetulan berserakan di dekat tubuhnya dan segera melap kemaluannya dari air maniku. Aku maklum melihatnya dan membantu membersihkan, lalu aku gandeng dia ke kamar mandi untuk mencuci kemaluannya dengan sabun antiseptik supaya air maniku tidak masuk ke rahimnya. Terus terang kami belum siap kalau Ana hamil duluan. Setelah dikeringkan dengan handuk, aku peluk tubuh bugil seksinya dan kukecup kening dan bibirnya sembari kubelai rambut wanginya. Dia mencubit dada berbuluku, sambil berkata, “Iiih.. kamu bandel banget siih sayang, nanti kalo aku hamil gimana hayoo!” Mata bulat indahnya mendelik ke arahku, namun bukannya aku menyesal tapi malah gemas melihat wajahnya ketika sedang marah gitu jadi tambah kelihatan cantik sekali. Alhasil aku rengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku dan kemaluanku kembali tegang.

Setelah keluar dari kamar mandi kami merapikan diri dan Ana kembali ke kamarnya lagi setelah mencium bibirku dengan lembut lalu aku tertidur kecapaian. Hingga keesokan harinya aku terbangun sinar matahari sudah terang menembus kamar dan mataku tertumbuk pada noda merah agak tidak jelas dan masih sedikit basah di seprei kasurku. Ya ampuun, kalau benar itu noda darah berarti memang Ana masih perawan dan akulah yang mengambil keperawanannya walaupun aku tidak bermaksud demikian. Barulah aku percaya memang Ana adalah gadis baik-baik, sehingga membuatku tambah cinta. Maafkan aku sayang, aku sudah berprasangka buruk sama kamu, ohh gadis cantikku ternyata masih ada cewek seperti kamu yang masih menjaga kesuciannya. Tapi kejadian itu malah tidak membuat kami berdua kapok, bahkan malam berikutnya kami melakukan lagi di kamarku setelah sebelumnya Ana bilang padaku kalau liang kemaluannya linu kusodok dengan batang kemaluanku. “Tapi kamu jangan kapok lho sayaang.. nanti malam lagi yaah..” bisiknya manja saat kami jalan-jalan di Mall. Sampai kemudian kami pulang ke Y di atas kereta dengan sembunyi-sembunyi kami saling cium bibir dan remas bagian tubuh kami yang peka rangsangan.

0 comments:

Loading....

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
(˘̀^˘́҂)ҧ Design by uncensored8 | By Maling Durjana DMCA_logo-200w Pelacur Gratis Fast loading | Sexy Analytic (˘̀^˘́҂)ҧ