Warung Bebas

Saturday, November 23, 2013

INTERAKSI DAN 3 KATA HEBAT

INTERAKSI DAN 3 KATA HEBAT
INTERAKSI DAN 3 KATA HEBAT
INTERAKSI DAN 3 KATA HEBAT-Sebagai makhluk sosial, tentu kita menyadari bahwa kita perlu berinteraksi dengan sesama. Namun, dalam proses interaksi tersebut, sering kali kita lupa akan hal-hal kecil yang sebenarnya memiliki peran sangat penting, misalnya mengucapkan kata “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih”. Meski terkesan sederhana, menyepelekan ketiga kata tersebut dapat menghambat hubungan sosial kita, yang pada akhirnya membawa kita pada kegagalan. Lalu, apa sebenarnya kekuatan yang ada di balik ketiga kata itu, sehingga memiliki peran sangat penting dalam kehidupan? Mari kita meretas secara tuntas bagaimana kekuatan kata “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih” mempengaruhi Agan dalam menggapai kesuksesan di segala bidang; serta bagaimana Agan mengembangkan karakter personal dengan tiga kata itu. Ditambah dengan kisah-kisah tentang dahsyatnya kekuatan ketiga kata itu, Semoga dibiuatnya thread ini semakin menguatkan Agan untuk menjadi pribadi yang ringan dengan kata-kata “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih”.

Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan lama mengirimkan sebuah artikel, yang berkisah tentang tiga kata hebat. Ketiga kosakata itu adalah ‘tolong’, ‘terima kasih’ dan ‘maaf’. Dalam artikel itu, kawanku mengatakan bahwa tiga kata ini mengandung nilai moral yang tinggi. namun sayang, saat ini ketiga kata itu telah lenyap dari kosakata keseharian kita, entah lupa atau dilupakan.

Kata ‘tolong’ adalah sebuah ungkapan penghalus yang bernilai budi pekerti tinggi demikian juga dengan kata ‘maaf’, sementara kata’terima kasih’ adalah kata yang didalamnya dipenuhi oleh muatan kesantunan dan rasa kebersyukuran atas segala yang terjadi maupun apa-apa yang telah dilakukan oleh orang lain pada kita.

Dari pencarian dan pengamatan saya akhirnya ada satu kesimpulan yang cukup menarik dan memang seyogyanya menjadi perhatian yang cukup serius bagi kita bila kita ingin kembali menghidupkan kosakata-kosata berdaya milik bangsa kita sendiri itu. Kesimpulan itu adalah bahwa ternyata dalam ruang lingkup keluarga Indonesia, pemberian contoh dari orang tua kepada anak mengenai aplikasi langsung penggunaan kosakata ini sangatlah kurang. Demikian juga dalam konteks kemasyarakatan. Pemberian contoh dari penguasa atau para pejabat sebagai pemimpin komunitas ke masyarakat juga sangat minim. Celakanya lagi di ruang-ruang pendidikan pun terjadi hal yang demikian. Guru kurang memberi keteladanan kepada para siswanya dalam mengeksplorasi konsepsi kata ‘terima kasih’,’tolong’ dan ‘maaf’ dalam keseharian secara wajar dan alamiah.

Kondisi ini yang pada akhirnya sedikit demi sedikit mengusur keberadaan kata-kata tersebut dalam keseharian kita, menjadikannya seperti tiga kata asing.

Dari ketiganya, kata “maaf” adalah kata yang paling “tersakiti”. Ia paling jaring terdengar oleh telinga kita, terutama dari mereka yang berposisi lebih tinggi, orangtua kepada anak, pimpinan kepada bawahan, pejabat kepada rakyat dan sebagainya. Nampak sekali bahwa kata ini syarat gengsi, sehingga tampak tidak elok kalau harus dinyatakan oleh mereka yang punya kuasa pada yang tidak. Selain itu, benturan budaya dan pemikiran bahwa yang tinggi tidak pernah bersalah masih terlalu lekat. Walhasil, “maaf” pun seperti terkubur dalam-dalam dari kosata keseharian kita.

Kata “maaf” adalah satu permohonan ampun akan segala kesalahan dan khilaf yang pernah dilakukan, bukan sekedar basa-basi untuk menghilangkan segala kewajiban, sebagaimana yang saat ini sering kita dengar. Inilah rupanya yang menjadi tembok besar penghalang, karena konsepsi meminta ampun seringkali dilekatkan pada pihak-pihak tertentu saja. Sementara pihak yang lain, sepertinya boleh “bersih” dari mengucapkan kata ini.

Sementara, untuk dua kata yang lain, kita masih boleh sedikti berlega hati. Meski tak terdengar nyaring dan riuh, kata “terima kasih” dan “tolong” masih sempat kita dengar.

Kata “terima kasih” adalah satu wujud ungkapan syukur atas bantuan atau apapun yang kita dapatkan dari orang lain. Berterima kasih adalah wujud apresiasi mendalam kita pada setiap orang di sekitar. Sama halnya dengan “terima kasih”, kata “tolong” merupakan wujud penghormatan kita pada sesama. Kita memandang setiap orang sama, sehingga saat meminta sesuatu kita melepaskan arogansi diri dengan mengucap “tolong”. Pada dasarnya, kata ini bukan sekedar penghalus saja, namun sekali lagi, bagaimana kita menempatkan orang lain pada derajat yang tinggi.

Sebegitu sulitkan ketiga kata tersebut dihidupkan kembali?

Sebenarnya tidak. Ketiga kata itu adalah kata-kata yang sederhana, yang tidak menguras energi untuk mengatakannya. Juga tidak mengurang pemikiran. Hanya, butuh sifat legowo dalam diri agar mudah terucapkan. Sayang, konsep hidup majikan-pembantu masih terlalu, dan menjadi semakin lekat dalam kehidupan kita. Akhirnya, hal yang seharusny mudah menjadi terlampau sulit. Sangat sulit bahkan. Artinya, untuk menghidupkannya kembali, kita perlu mendobrak konsep relasi majikan-pembantu dalam diri kita. Kita perlu menghidupkan kembali pemikiran bahwa setiap orang memiliki kedudukan sama dan berhak untuk menerima ucapan “terima kasih” saat dia menolong dan membantu kita, “tolong” saat kita meminta bantuan, dan “maaf” saat kita bersalah. Kita perlu membuang jauh egoisme pribadi.

SUMBER:http://www.kaskus.co.id/post/525571fdbccb17e852000000

0 comments:

Loading....

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
(˘̀^˘́҂)ҧ Design by uncensored8 | By Maling Durjana DMCA_logo-200w Pelacur Gratis Fast loading | Sexy Analytic (˘̀^˘́҂)ҧ